Breaking News
Loading...
Senin, 09 Desember 2013

Tuberculosis dan Indonesia


26 November 2013 pukul 1:55
Tuberculosis atau tuberkulosis adalah suatu infeksi kronik jaringan paru yang disebabkan mycobacterium tuberculosae. Dulu penyakit ini tersebar diseluruh dunia, tetapi sekarang sudah jarang di Eropa dan Amerika Serikat, karena perbaikan higiene dan standar hidup. Di daerah tropik frekuensi tuberkulosis paru masih tinggi. (Herdin Sibuea, 1992:46)

Keluhan:
keluhan dini sangat perlu diketahui karena diagnosis sering tidak dapat ditegakkan pada stadium permulaan, sehingga terjadi kerusakan paru-paru yang luas, selain itu kebanyakan kasus tuberkulosis sekunder dapat menularkan penyakit ini, terutama pada anak kecil.
Bila seseorang menyadari dirinya mengidap tuberkulosis menular, maka ia harus segera diajari tentang upaya iii untuk membahag infakri terhadap orang lain termasuk anak-anaknya.

Keluhan-keluhan dini
Keluhan batuk-batuk yang berkepanjangan yang mengeluarkan dahak berwarna kekuningan, kadang-kadang bercampur darah, kadang-kadang batuk darah, lelah, demam, kehilangan nafsu malam, berat badan turun, dapat timbul bersama-sama atau sendiri-sendiri pada penderita-penderita dewasa muda. Gejala-gejala tersebut berlangsung dalam beberapa minggu, malahan berbulan-bulan, tetapi kadang-kadang (pada usia lanjut) tak terdapat kelian sama sekali walaupun dahaknya menular. Seperti ini adalah penderita yang berbahaya Kadang-kadang penyakit ini mulai dengan gejala-gejala yang tidak umum seperti: timbul nodus yang kemerahan pada kulit disekitar mata kali dengan para sakit atau kombinasi demam, sesak napas, dan nyeri pada dada pada waktu tarik napas.


Bahaya tuberkulosis paru kronik adalah:
1. Destruksi jaringan paru yang mengakibatkan kegagalan pernapasan dengan tanda-tanda dispne dan sianosis.
2. Ruptur pembuluh darah besar yang melalui kavitas sehingga terjadi pendarahan serius.
3. Demam yang terus menerus yang merongrong kesehatan dan daya tahan penderita.

Terapi:
Dalam kavitas tuberkolosis terdapat 10 sampai 100 juta basil. Satu diantara 100 ribu basil akan resisten terhadap salah satu obat anti tuberkolosis.
Pada 3 bulan pertama diberi terapi intensif dengan pemberian kombinasi obat isoaniazid, Etambutol, dengan Streptomisin. Lalu setelah hampir 2 tahun hanya diberi Isoaniazide dan Ethambutol.

Efek samping obat-obatan anti tuberkulosis:
Streptomisin dapat merusak saraf pendengaran maupun ginjal.
Isoniazide dapat menimbulkan kerusakan yang hebat pada hati terutama pada peminum alkohol atau penderita yang mendapat kombinasi dengan Rifampisin.
Operasi paru-paru yang sering dilakukan pada tahun 1950, sekarang sudah kami dilakukan. (Herdin Sibuea, 1992:52).


:

0 komentar:

Copyright © 2013 (LIFE IS NEVER FLAT)اثنىن فاوزىه All Right Reserved | Share on Blogger Template Free